Sepasang Mata Kelabu dan Burung - Burung yang Mati
Menurut sebuah buku yang pernah saya baca, mawar adalah simbol cinta yang suci. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan cinta yang suci itu, tak jelas benar bagi saya. Tapi sungguh, kuntum-kuntum mawar putih yang sedang merekah memang sedap dipandang. Apalagi apabila kuntum-kuntum bunga itu baru saja disirami dan tetes-tetes air tampak bergulir membasahi kelopaknya. Sering kali pada saat-saat seperti itu, saya teringat kepada Tuhan. Dan saya merasa bahagia."
Selain cerpen-cerpen bertema cinta yang gelisah dan kesunyian manusia, sebagian cerpen dalam buku ini menyiratkan rasa simpati pengarangnya terhadap mereka yang menjadi korban dalam sejumlah peristiwa kelam di berbagai belahan bumi, dari Aceh sampai Argentina: orang hilang, pembantaian yang dilupakan, perkosaan atas nama perang.
"Waktu menjadi jumpalitan dalam cerpen Anton Kurnia... Namun demikian, jumpalitan sang waktu hanya terjadi dalam benak... Ini sangat menarik."—Bakdi Soemanto, kritikus sastra dan guru besar sastra Universitas Gadjah Mada; Jurnal Cerpen Indonesia, No. 2, 2002
Informasi Detail
- Penerbit
- Yogyakarta : DIVA Press., 2019
- Deskripsi Fisik
- 168 hlm.; 14 x 20 cm.
- Bahasa
- Indonesia
- ISBN/ISSN
- 9786023917990
- Klasifikasi
- 813
- Tipe Isi
- text
- Edisi
- Cet.1
- Subjek
Komentar
Anda harus masuk sebelum memberikan komentar